Mendapatkan uang dalam waktu yang singkat, kenapa tidak? inilah mungkin yang dipikirkan oleh salah satu konten kreator tiktok, yang menampilkan live mandi lumpur orang-orang termasuk lansia dalam waktu berjam-jam. Dalam satu jam live tiktok saja diyakini bisa mendapatkan penghasilan kurang lebih sekitar satu juta rupiah dari gift yang diberikan oleh penonton dan gift tersebut dapat diuangkan jadi uang beneran. Oleh karena itu aktivitas inilah akhirnya yang ramai disebut oleh netizen sebagai ngemis online.
Kejadian ini sangat ramai diperbincangkan oleh publik, tidak sedikit orang yang mengecam aktivitas tersebut, karena kegiatan itu yang dianggap mengandung unsur eksploitasi pada lansia. Bahkan mentri sosial kita sampai menginstruksikan surat edaran melarang untuk adanya kegiatan yang serupa di waktu yang akan datang, karena selain hal ini cukup meresahkan dan aktivitas tersebut dianggap bertentangan dengan norma-norma sosial yang ada di masyarakat.
Polisi juga sempet memeriksa beberapa pemeran dalam live tiktok mandi lumpur tersebut, namun pada akhirnya tidak melakukan tindakan lebih lanjut. Hal ini dikarenakan tidak ditemukan unsur paksaan pada setiap pemeran dalam live tiktok mandi lumpur tersebut. Mereka semua melakukannya atas dasar keinginan sendiri, meskipun untuk live tiktok mandi lumpur bisa sampai berjam-jam lamanya.
Para pemeran ini sebenarnya adalah para tetangga dari Sultan Akhyar sang pemilik akun tiktok live mandi lumpur. Mereka akan diberikan uang dengan nominal yang cukup menjanjikan dari hasil live tiktok tersebut. Oleh karena itu para tetangga malah berdatangan mengajukan diri untuk jadi pemeran live tiktok mandi lumpur, bahkan ada yang menolak untuk pergi ke sawah demi untuk mengantri live mandi lumpur. MIND BLOWING BANGET SUMPAH !!!
Memang rata-rata penghasilan dari para pemeran live tiktok mandi lumpur ini adalah orang-orang yang sangat kurang ekonominya, bayangkan saja ketika mereka harus bekerja seharian di sawah dari pagi sampai sore, mereka hanya dibayar 35rb rupiah saja. Tentu saja hal ini yang akan membuat mereka tidak akan pikir panjang apabila ada peluang bisa mendapatkan uang jutaan rupiah hanya dalam waktu sehari saja. Memang live tiktok mandi lumpur adalah sebuah hal yang nyeleneh dan dianggap tidak sesuai norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat, namun di sisi lain sang konten kreator sebenarnya juga membuka pintu rejeki bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Tetapi apakah hal ini dibenarkan? tuliskan pendapat kamu di kolom komentar.
Sebuah hal yang nyeleneh dan tabu saat ini bisa menjadi sumber penghasilan yang tidak terduga. Belum lagi tingkah konten kreator tiktok ini yang saya rasa cukup songong pasti akan membuat namanya semakin melambung. Bayangkan, dia menolak tawaran kerja dari seorang bos perusahaan dan malah meminta uang senilai 200 juta. Belum lagi dia membanding-bandingkan kekayaan bos perusahaan tersebut dengan salah satu artis papan atas, ngece lah istilahnya.
Tidak jarang juga si konten kreator ini pamer harta di sosmednya. Tentu saja semua tindakan ini berujung pada komentar netizen yang julid. Semakin netizen julid, maka si konten kreator ini namanya akan semakin besar, karena dia mendapatkan secara tidak langsung promosi gratis dari para haters yang selalu memberikan reaksi terhadap setiap aktivitas yang dia lakukan di sosial media. Orang yang tadinya tidak kenal pun akhirnya menjadi penasaran karena ramainya respon dan pemberitaan terhadap hal ini.
Oleh sebab itu guys, pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian ini. Apabila kalian tidak suka terhadap seseorang yang dianggap toxic, jangan malah kepoin segala aktivitasnya, jangan merespon apapun setiap aktivitasnya di media sosial. Karena tanpa kalian sadari, semua emosi dan kejulidan kalian itu adalah peluang bagi konten kreator dalam mencari uang. Apalagi sifat natural para netizen di negeri kita ini sangatlah reaktif. Hal ini tidak akan pernah ada habisnya, karena dimana ada hal yang viral, maka disitu akan ada uang. Cuma sayangnya sesuatu yang viral belum tentu mendidik, karena mayoritas netizen di negeri kita sendiri pada umumnya tidak memilih untuk mengkonsumsi konten-konten yang membangun dan bermanfaat.