Malam yang sejuk setelah hujan di Kota Malang, membawa saya berkeliling kota di tengah malam untuk mencari jajanan yang bisa menghangatkan badan. Maklum tubuh ini perlu energi yang lebih di tengah udara malam yang dingin. Entah kenapa dalam situasi seperti ini, paling ga bisa kalau ga makan.. Hahaha.
Bukan sebuah rahasia lagi bahwa kuliner malam di Kota Malang sangatlah bervariasi, karena Malang selain dikenal dengan kota pelajar dan kota wisata, Kota Malang juga surganya wisata kuliner. Nah ngomong-ngomong tentang kuliner nih, di Kota Malang saat ini lagi menjamur banget warung-warung angkringan khas Jogja. Saya bisa ingat bahwa awal tahun 2015 warung angkringan di Kota Malang sangat bisa dihitung dengan jari, namun saat ini jumlahnya sudah buanyak banget. Namun anehnya dimana-mana warung angkringan di Kota Malang hampir tidak pernah sepi pengunjung, contohnya saja seperti salah satu warung angkringan yang saya kunjungi di daerah Betek ini yang menjadi tongkrongan favorit para muda-mudi ngalam.
Beberapa ciri khas dari warung angkringan sendiri yaitu design gerobaknya yang dilengkapi dengan tenda, lalu makanannya yang dibakar, serta tempat duduknya yang pada umumnya lesehan. Hal ini membuat citra yang dibangun secara tidak langsung bahwa angkringan itu tempat makan yang merakyat dan murah meriah. Mungkin hal ini juga yang membuat warung angkringan saat ini digandrungi oleh muda-mudi di Malang untuk menjadi tempat nongkrong budget bareng teman.
Saat pertama kalian sampai di warung angkringan, pasti kalian akan langsung mencium aroma makanan yang dibakar dan aroma minuman hangat yang akan membuat perut kalian lapar. Belum lagi pemandangan makanan di gerobak angkringan yang sangat menggoda, karena secara prasmanan disediakan sate usus, sate tahu, sate telor, sate kikil, sate bakso, tempura, tempe tahu bacem dan nasi kucing, semuanya bisa dipanaskan atau dibakar ulang. Bisa dibilang ini semacam makanan berat yang ringan dan untuk harganya sendiri juga murah meriah mulai dari 1.500 sampai dengan 3.500 rupiah. Meskipun judulnya makanan ala nasi kucing, kalau ngambilnya porsi double ya kucingnya bisa jadi macan.. Hahaha.
Untuk minuman sendiri yang tersedia kalian bisa pilih mulai dari wedang jahe, wedang uwuh, susu jahe, kopi dan teh. Untuk harga mulai dari 3.000 sampai dengan 7.000 rupiah. Semua minuman disajikan dari teko yang dipanaskan diatas gerobak, persis disamping tempat bakaran makanan. Sesekali apabila tekonya panas kalian bisa melihat uap air yang keluar dari mulut teko dan suara dari uap yang pasti akan menarik perhatian kalian walau hanya sepersekian detik.
Rencananya tadi saya hanya ingin jajan tipis-tipis saja sebelum berangkat dari rumah. Namun anehnya begitu sampai di tempat yang satu ini, ada semacam perasaan kalap, awalnya cuma ngambil sate usus, terus ambil lagi sate telur, terus ambil lagi tempe bacem, terus ambil lagi sate tahu, begitu aja terus sampai akhirnya sadar kok tiba-tiba piring saya udah penuh aja.. wkwkwk. Tapi setelah diambil, kan ga mungkin mau dibalikin lagi, sungkan sama mas penjualnya yang sedang berdiri di depan gerobak sambil ngipasin makanan pesanan-pesanan orang yang datang.
Setelah kamu memesan makanan dan minuman, kamu hanya tinggal menunggu makanannya datang. Nah disini kebetulan saya menemukan sebuah titik lemah dari sebuah warung angkringan yang saya kunjungi di malam itu, kelemahannya yaitu terletak pada manajemen pesanannya. Di malam itu warung angkringannya cukup ramai, namun entah kenapa penjualnya saat itu tidak mencatat pesanan dan antrian sama sekali. Disitu saya mulai firasat kurang nyaman ini. Dan akhirnya apa yang saya khawatirkan beneran terjadi, pesanan dilayani tidak sesuai urutan kedatangan tamu, jadi hanya seingat penjualnya saja, sehingga saya beberapakali melihat banyak orang yang datang setelah saya sudah mendapatkan pesanannya dan saya belum. Tentu saja hal ini cukup mengganggu bagi saya yang sedikit kritis ini. Belum lagi si penjual sempat datang dan menanyakan ulang apa pesanan saya setelah saya sudah duduk kurang lebih 20 menit di tempat itu, secara tiba-tiba perut saya menjadi kenyang dong.. wkwkwkw.
Setelah menunggu lagi kurang lebih 10 menit, akhirnya pesanan kita datang juga. Setelah kita mencicipi makanannya, ternyata cukup enak juga. Lumayan lah mengobati rasa bete kita saat datang tadi. Hahaha. Citarasanya itu sangat khas, terasa bumbu bakarannya yang gurih dan manisnya kecap, serta ada aroma-aroma hangus yang tidak berlebihan membuat kamu akan lahap menyantap setiap pesanan. Sampai-sampai tidak terasa kita makan hanya 3 menit saja, padahal nunggunya sampai 30 menit tadi.. Wahahahaha.
Yahhh jadi itu dia pengalaman saya makan di salah satu angkringan di daerah Betek, Kota Malang ini. Sebenarnya saya sudah beberapakali makan di warung angkringan, untuk tempat yang satu ini sebenarnya lumayan oke menurut saya dan patut dicoba. Hanya saja saran saya, jangan kesini waktu laper banget, karena nanti kalau nunggunya lama, bawaannya pasti kesel.. biar ga rese kalau lagi laper, jangan lupa bawa snikirrrsss.. Wkwkwkw.. Ya sudah lah, gitu dulu sharingnya ya teman-teman, sampai jumlah lagi di blog berikutnya.